jump to navigation

Blue Ocean Strategy October 28, 2008

Posted by aororaoperations in Marketing Strategy & Operational Marketing.
trackback

Over View

Krisis Financial Global

Krisis financial yang melanda Amerika yang diawali dengan kejatuhan Lehman & Brother semakin luas dampaknya secara global, kalangan bisnis sempat terhenyak kaget bagaimana mungkin Lehman Brothers yang semula begitu bergengsi dan sudah berdiri sejak tahun 1850, akhirnya jatuh dengan dramatis, dalam situasi terakhir diberitakan bagaimana dampaknya yang terus meluas, di Eropa deretan bank banyak yang  menjadi korban sehingga pemerintah di eropa harus turun tangan untuk menangani dan menolong masalah perbankan yang terjadi dinegerinya masing-masing.

Pemerintah Belgia,Luksemburg dan Belanda memutuskan menstabilkan fortis group dengan menyediakan dana modal 11,2 miliar euro atau sekitar Rp 155,8 triliun (28/09/08). Fortis adalah bank kedua yang terbesar di Belanda dan perusahaan swasta terbesar di belgia dengan jumlah karyawan 85.000 di seluruh dunia termasuk Indonesia, tetapi lebih jauh lagi akankah krisis global ini akan berdampak ke Perekonomian nasional kita, dalam minggu lalu Jumat tgl 10 oktober kurs rupiah menyentuh angka 10.300 Ru piah per 1 USD, Indeks harga saham gabungan jeblok hingga 183,768 poin (6/10/08), dan Bursa Efek sempat ditutup beberapa hari, serta terakhir harga CPO (Crude Palm Oil) yang menjadi salah satu andalan komoditi kita turun drastis (1200 USD/Ton dari 1300 USD/Ton pada akhir Juli 2008) .Akankah Indonesia diambang krisis ekonomi part 2 seperti yang terjadi di tahun 1997.

Dari kondisi Global dan Nasional seperti ini bagaimanakah kondisi pasar kita, strategy marketing seperti apakah yang perlu dipergunakan untuk mengatasi atau mensiasati kondisi yang pasar yang tidak menentu ini, dimana terjadi kemungkinan daya beli menurun, Penyusutan market size dan sebagainya.

Marketing Strategy

Segmentasi,Targeting dan Positioning

Melihat kondisi tersebut maka tantangan kita yang paling utama adalah bagaimana kita melihat Market kita secara lebih kreatif, melihat peluang yang ada, melihat ceruk pasar yang belum tergarap, Melakukan inovasi tentang Bagaimana Membidik pasar secara tepat, bagaimana kita memposisikan Produk kita agar sesuai dengan segmen pasar yang kita pilih ,dan differensiasi produk kita dibandingkan dengan Competitor sehingga mengena ke target market yang kita bidik, tentunya ini merupakan hal yang tidak mudah tetapi mutlak harus dilakukan agar dapat tetap Eksis dan survive dikondisi market  serta kompetisi yang semakin ketat ini.

Mungkin kita tidak pernah menyangka bahwa bahwa awalnya Buku Harry Potter yang di karang JK Rowling dikarang untuk pasar orang dewasa, mungkin kita juga bisa melihat bahwa Marlboro yang dikenal sebagai rokoknya lelaki macho padahal awalnya direncanakan untuk pasar wanita, Hal serupa juga dialami oleh Yamaha Mio yang dalam iklannya jelas-jelas ditujukan untuk  para wanita akhir-akhir ini malah dimininati oleh pria-pria yang ingin berkendaraan secara simple dan praktis.Dari hal diatas perlu disadari bahwa pasar sebenarnya sangat misterius dan tidaklah mudah untuk menebaknya masih untung jika kita nyasar ke segmen pasar yang menguntungkan bagaimana jika sebaliknya?. 

Karena itu kita perlu targeting yang tepat untuk membidik pasar secara tepat. Pada hakekatnya Targeting adalah menentukan segmen-segmen pasar yang potensial baik itu bagi perusahaan pada umumnya dan produk kita pada khususnya, sehingga dari kasus diatas tidak sembarang segmen yang dapat kita bidik  tetapi harus disesuaikan dengan potensi sumber daya yang kita miliki, misalnya , dana , asset dan SDM yang kita miliki. 

Selain targeting kita juga perlu melakukan positioning, Menurut Kotler Positioning diartikan sebagai tindakn merancang tawaran dan citra perusahaan sehingga menempati posisi yang khas (dibandingkan dengan para Kompetitor) didalam benak pelanggan yang menjadi targetnya yang tujuannya adalah menempatkan Brand dalam pikiran konsumen untuk memaksimalkan potensi manfaat perusahaan, sehingga dengan menentukan positioning brand yang baik membantu strategi marketing dalam hal mengklarifikasi esensi merek , tujuan, yang hasil akhirnya adalah penciptaan Proporsi nilai yang berfokus pada pelanggan.

Yang mana ketiga hal yang diatas “STP” (Segmentasi, Targeting dan Positioning), menurut Kottler merupakan Fundamental pembangunan strategy Pemasaran,tetapi lebih dari itu dalam create suatu Marketing Stategy perlu diperluas dan dikaji lagi apakah strategy yang dibuat sudah menangkap nilai/Value yang diinginkan oleh customer kita sehingga strategi yang kita jalankan benar-benar sesuai dengan harapan customer yang menjadi target market kita.

 Blue Ocean Strategy

BOS & Segmentasi,Targeting dan Positioning

Berkaitan dengan menangkap nilai atau value terhadap pelanggan sejak akhir tahun 2004 sebenarnya telah dikenalkan suatu konsep baru dalam strategy marketing yang melengkapi konsep STP diatas yang diperkenalkan W. Chan Kim dan Renee Mauborgne dalam Harvard Business Review yang disebut, Blue Ocean Strategy atau Strategi samudera Biru, Apakah sebenarnya yang disebut dengan Strategi samudera biru , apa Hubungan nya dengan STP bagaimanakah penerapannya? Sebagai landasan berfikirnya dituliskan Competing in overcrowded industries is no way to sustain high performance. The real opportunity is to create blue oceans of uncontested market space”, Sehingga perlu dilakukan pendekatan baru dalam menyikapi Ketatnya kompetisi dalam situasi Global dan Nasional yang sermakin ketat ini yaitu :

1.     Bagaimana menciptakan Ruang Pasar tanpa Pesaing? dan

2.     Bagaimana membuat kompetisi menjadi Tidak Relevan?

Kasus Cirque du Soleil

Cirque du soleil adalah salah satu pemain dalam Pasar industry Sirkus yang didirikan tahun 1984 dimana Market industry ini sebenarnya tidak menarik tetapi pada kenyataannya Cirque du Soleil mampu meningkatkan pertumbuhannya dengan sangat pesat dalam waktu kurang dari 20 tahun,yang bagi Ringling Bros dan Barnum & Bailey yang saat itu merupakan jawara global dalam industry sirkus perlu waktu lebih dari 100 tahun untuk mencapainya, Aspek yang dapat dicermati dan menarik disini adalah bahwa keberhasilan  Cirque du soleil tidak dengan cara mengambil konsumen atau target market dari industri sirkus yang sudah mulai menyusut, yang secara tradisional Target Marketnya adalah anak-anak. Cirque du soleil tidak bersaing dengan Ringling Bros dan Barnum Bailey. Sebaliknya ia menciptakan Blue Ocean dimana dia berhasil menciptakan ruang pasar baru tanpa pesaing dan kompetisi tidak lagi menjadi relevan. Key Sukses faktornya adalah dia merhasil melihat segmen pasar baru dan berhasil membidik segmen pasar tersebut yaitu segmentasi kelompok orang dewasa dan pelanggan korporat yang bersedia “Pay More  beberapa kali lipat lebih mahal dibandingkan dengan sirkus biasa demi merasakan sensasi pengalaman hiburan yang tidak pernah ada sebelumnya. Sebagai catatan salah satu produksi utama Cirque diberi Judul “We Reinvent The Circus”.

Dalam kasus ini Cirque du Soleil dapat berhasil karena ia menyadari bahwa untuk ,memenangi kompetisi adalah Berhenti berusaha memenangi kompetisi”.
 
Blue Ocean & Red Ocean

Untuk lebih memahami apakah sebenarnya yang menjadi kunci keberhasilan Cirque du Soleil maka coba bayangkanlah sebuah pasar yang terdiri dari atas dua samudera :

1.     Samudera Merah

 2.  Samudera biru

 

Samudera Biru, menggambarkan sebuah ruang pasar yang belum terjelajahi, dimana penciptaan permintaan permintaan dan peluang pertumbuhan yang sangat menguntungkan. Meskipun sejumlah samudera biru benar-benar diciptakan diluar industri yang sudah ada, tetapi pada kenyataannya kebanyakan di buat dari dalam samudera merah dengan cara memperluas batasan-batasan industri yang telah ada seperti yang dilakukan Cirque du Soleil yang memandang lebih kreatif Segmen pasar yang sudah ada sehingga dilakukan extensifikasi Market Segmen ke Orang dewasa dan korporat yang saat itu belum tergarap.

Samudera merah menggambarkan semua industri yang ada saat ini, yang merupakan ceruk pasar yang sudah dikenal, dalam samudera merah , batasan-batasan dalam industri telah di definisikan dan telah diterima serta aturan-aturan persaingan telah diketahui.Disini masing-masing company berusaha untuk mengalahkan lawan mereka demi mendapatkan pangsa pasar yang lebih besar, ketika market menjadi semakin “crowded” ,dan dalam kondisi seperti ini terjadi perang harga yang mengakibatkan berkurangnya profit margin, Produk menjadi komoditas dan kompetisi habis-habisan ini memgubah samudera merah menjadi samudera penuh darah. 

Akan tetapi diluar fenomena Cirque du Soleil yang berpijak pada konsep Blue ocean strategy, tidak demikian halnya dengan kasus Mie sedaap & Indomie 

 Fenomena Blue Ocean Strategy

  VS

 Jika dilihat sejak peluncuran Mie sedap pada tahun 2003 Wings foods langsung menantang sang market leader Indomie, dan hal ini tidak dapat dipandang remeh oleh management indomie karena dalam jangka waktu +/- 2 tahun Mie sedaap berhasil menguasai market share +/- 15-20 % Padahal, Indofood The Market Leader adalah pemain yang sangat dominan dan telah bertahan selama puluhan tahun di posisi ini. Bahkan, pada 2002 pangsa pasar perusahaan milik Salim ini di bisnis mie instan mencapai 90% dengan nilai sekitar Rp  8 triliun, tetapi Wings Foods mampu merubah konfigurasi pasar ini, faktor-faktor yang mendukung keberhasilan ini diantaranya adalah strategy distribusi regional yang diterapkan di Indonesia bagian timur yang lebih fokus ke akar rumput (R3, Rombong/gerobak, warung) dan Di indonesia bagian barat untuk pasar modern dan Grosir menengah (R1/R2), selain itu Timing yang pas juga menjadi faktor penentu keberhasilan ini yaitu Wing Foods masuk ke Pasar Noodles Industries saat monopoli terigu oleh Indofood yang menjadi bahan baku utama industri Mie telah berakhir masa kejayaannya dan selain itu banyaknya pemain diindustri ini yang berguguran.

Penerapan Blue Ocean Strategy Di Perusahaan Nasional

Teh Botol Sosro,Avanza dan Air Lines Industry di Indonesia

Teh Botol Sosro

Dalam Majalah Swa Edisi oktober 2005 diberitakan  Teh Botol Sosro meraih penghargaan Life Time Innovation 2005. Berkat temuannya yang orisinil: teh dalam botol, ia dinilai berhasil memberikan inovasi yang istimewa baik bagi korporat maupun lingkungannya.

Meskipun awalnya harus bekerja keras, terutama meyakinkan konsumen ataupun pedagang eceran, Sosro membuktikan bahwa ide orisinal yang mereka lahirkan dapat diterima masyarakat luas dan memiliki nilai tinggi. Bahkan kini, ia telah berkembang menjadi raksasa minuman dengan taksiran aset (meliputi kebun, pabrik, hingga botol) lebih dari Rp 10 triliun. “Keberhasilannya memberi value kepada korporat dan lingkungannya, serta potensinya menjaga kelangsungan bisnisnya

 

Inovasi yang dilahirkan Sosro sangat berbeda dengan inovasi yang dilahirkan oleh beberapa perusahaan lain diindonesia, jika inovasi yang dilahirkan perusahaan-perusahaan pada umumnya adalah menyangkut Produk,Proses, atau managemen pemasaran yang sebenarnya mudah meniru dan ditiru lain halnya dengan sosro yang melahirkan Inovasi produk yang benar-benar orisinil Tidak ada sebelumnya perusahaan yang memproduksi the dalam botol yang kemudian di jual,namun sosro melakukannya, dan tidak hanya itu saja tetapi dia juga mengembangkan sistem distribusi, bisnis pembotolan sampai perkebunan teh yang dia kuasai

Yang menjadi inovasi nilai yang berhasil diwujudkan bagi produk sosro.

Avanza & Xenia

Avanza dan Xenia merupakan salah satu contoh penerapan Blue Ocean strategy, Kita dapat melihat kreatifitas mereka saat mereka membentuk kategori sendiri, pada segmen pasar yang belum tergarap dan dijangkau oleh pemain industri Otomotif yang lain. 

Bentuk Inovasi yang Avanza/Xenia lakukan adalah dengan menggabungkan manfaat mobil kecil (yang hemat BBM), mobil Korea(harga murah), mobil keluarga (ruangan yang relatif luas), layanan purna jual yang baik (lewat jaringan layanan purna jual Astra)

Tetapi dalam membuat inovasi nilai ini Avanza dan Xenia terpaksa harus mengorbankan Beberapa manfaat yang lain seperti kualitas dan kuantitas interior,serta dari aspek design terlihat design model menjadi Agak kaku namun dalam hal ini stressing point yang ingin dicapai oleh Avanza dan Xenia ini adalah manfaat yang paling dibutuhkan dan diinginkan oleh Customernya sebagai contoh “Price” dan After Sales Servicenya”.

Air Lines Industry di Indonesia

Saat membahas tentang konsep Blue Ocean Strategy untuk industri penerbangan mungkin tidak akan mengena jika kita tidak terlebih dahulu membahas tentang konsep Low End LCC yang dibangun oleh Lion Air.

  

 

Seperti tercantum di Tag Line nya “We make people Fly” terlihat bahwa targeting lion air adalah Low End Customer,secara konsep sebenarnya sederhana karena meniru South west, yaitu di satu sisi menambah dan mempertahankan standard customer value berupa, ketepatan waktu, jumlah penerbangan, dan keamanan dan di satu sisi yang lain memangkas customer value yang tidak perlu yang disesuaikan dengan target marketnya seperti makanan, In Flight entertainment serta layanan lain yang ada di service Air lines, pemangkasan itu memang disengaja dengan tujuan penurunan cost karena customer yang menjadi target market mereka memang tidak menganggap value yang dihilangkan itu  penting . Value innovation yang diperkenalkan Lion Air ini rupanya sukses luar biasa sehingga, tak heran kalau kemudian banyak yang menirunyanya, namun sangat di sayangkan dalam perjalanannya pasca langkah breakthrough itu dunia penerbangan kita tidak berkembang seperti yang diharapkan dan mulai kehilangan inovasi dan kreatifitas, padahal kalau dilihat dari aspek potensi , market Low Segmen kita sangat besar sehingga walau jumlah value nya kecil tapi menarik (Dengan Volume Market yang besar), sehingga diharapkan ada pemain-pemain baru yang inovatif yang dapat memenuhi demand pasar penerbangan Indonesia yang begitu besar untuk segmen ini.

Landasan fundamental BOS

Value Inovation

Dari 3 kasus Blue Ocean strategy diatas terlihat bahwa keberhasilan mereka merebut pangsa pasar adalah dengan membuat suatu “Value Inovation” yang kreatif yang diintegrasikan dalam Penerapan Strategi Segmentasi,Targeting dan Positioningnya.

Sehingga hal yang membedakan antara antara Winner dan Looser dalam menciptakan samudera biru adalah pendekatan mereka atas strategi, Para creator Strategi Samudera Biru tidak menggunakan kompetisi sebagai landasan pijakan mereka sebaliknya mereka mengikuti logika strategis yang berbeda yang disebut “Inovasi Nilai/Value Inovation”,dalam inovasi nilai ini diberikan penekanan yang setara antara Inovasi dan NIlai, Nilai tanpa inovasi cenderung berfokus pada Penciptaan Nilai dalam skala besar,sesuatu iyang meningkatkan nilai tetapi tidak memadai untuk membuat kita unggul secara menonjol di pasar, Inovasi tanpa nilai cenderung mengandalkan teknologi, pelopor pasar, atau futuristis dan sering meleset dalam Targeting karena pasar belum siap menerima atau mengkonsumsi inovasi tersebut.

 

Canvass Strategy

How to Create Canvass strategy

Untuk dapat menciptakan/menemukan suatu value inovation dalam bisnis kita kita harus menangkap dan Membandingkan dengan competitor di industri kita mengenai Titik persaingan dalam industri, elemen- elemen yang belum ditawarkan dan yang sudah ditawarkan dalam industry sehingga akhirnya tercipta Value Inovation, dan untuk dapat memetakan hal-hal tersebut diatas maka digunakan Strategy  Canvass.

Kanvas strategi adalah kerangka aksi sekaligus diagnosis untuk membuat samudera biru yang baik yang fungsinya adalah untuk merangkum situasi terkini dalam ruang pasar yang sudah dikenal. (Lihat Appendix 1)

 

 (Canvass strategy)

Lalu timbul pertanyaan bagaimanakah menciptakan Inovasi nilai dalam strategy kita?, Inovasi nilai diciptakan dalam wilayah dimana tindakan perusahaan secara positif mempengaruhi struktur biaya dan tawaran nilai bagi pembeli. Penghematan biaya dilakukan dengan :

  • Menghilangkan dan mengurangi faktor-faktor yang menjadi titik persaingan dalam industri.
  • Nilai pembeli ditingkatkan dengan menambah dan menciptakan elemen-elemen yang belum ditawarkan industri (Lihat gambar diatas).

Dalam perjalanannya , biaya berkurang lebih jauh ketika ekonomi skala bekerja setelah terjadi volume penjualan tinggi akibat nilai unggul yang diciptakan.

Dari hasil strategi kanvas perlu dilakukan aktivitas yang dibuat berdasarkan kerangka kerja 4 langkah :

  1. Faktor apa saja yang harus dihapuskan dari factor-faktor yang telah diterima begitu saja oleh industri?
  2. Faktor apa saja yang harus dikurangi hingga dibawah standar industri?
  3. Faktor apa saja yang harus ditingkatkan hingga diatas standar industri?
  4. Faktor apa saja yang belum pernah ditawarkan industry sehingga harus diciptakan?

Dari hasil menjawab pertanyaan itulah maka Value Inovation tercipta dan muncullah samudera biru.

Konklusi

  • Blue Ocean Strategy adalah Suatu strategy bisnis  tentang bagaimana menguasai ruang pasar yang tidak diperebutkan .
  • Saat kita berhasil menciptakan ruang pasar baru maka persaingan menjadi tidak lagi relevan yang jika dikaitkan dengan Segmentasi dan targeting maka kita berhasil membidik pasar dari segmen baru yang belum tergarap oleh siapapun (Cirque du Soleil,Teh Botol sosro, Avanza & Xenia)
  • Pada kondisi ini kita memonopoly pasar tersebut
  • Kebalikan dari Blue Ocean adalah Red Ocean dimana kondisi pasar terjadi kompetisi yang sangat ketat dan terjadi Price war yang digambarkan market menjadi berdarah-darah, dan terjadi saling bunuh, tikam-tikaman, sehingga market yang diistilahkan sebagai samudera berwarna Merah Misal antara Mie Sedaap Wings Food dengan Indo Mie dari Indofood yang menyebabkan Blue Ocean merupakan solusi untuk keluar dari situasi Red Ocean
  • Sebagai landasan untuk Create Blue Ocean adalah Company harus melakukan Value Inovation karena tidak selamanya value yang telah kita terapkan akan selalu langgeng, hal ini disebabkan karena adanya competitor yang dapat meniru nilai yang kita bangun seperti yang terjadi pada Air Line Industry (Lion Air), sehingga hal ini akan membawa samudera biru ke Samudera merah

 

 

  • Value Inovation (Inovasi Nilai) diciptakan melalui Penghematan biaya dan Menciptakan Elemen-elemen yang belum ditawarkan oleh industri dengan menggunakan tool Kanvas Strategi    

 

What should We Do?

Dari issue situasi global dan nasional tentang krisis financial yang terjadi dalam bulan-bulan terakhir ini maka para Pemain pasar harus menyikapinya secara lebih kreatif terutama dalam hal melakukan penguasaan pangsa pasar yang semakin menyusut karena turunnya daya beli dan pasar yang semakin padat dengan kompetisi yang ketat dimana “Price War” tidak terhindarkan seperti yang terjadi di industry selular di Indonesia (Telkomsel,Satelindo,Xl, Esia, dll) maka Company dapat menggunakan Blue ocean Strategy  sebagai strategy pilihan untuk menghadapi situasi krisis ini.

Dengan CHALLENGE bahwa company harus terus menerus melakukan dan menciptakan Value Inovation (inovasi nilai), sehingga Company tetap dapat mengarungi Samudera Biru. 

 (By Aorora)

 

Comments»

1. Dan Waldron - October 28, 2008

Can you tell me who did your layout? I’ve been looking for one kind of like yours. Thank you.

2. aororaoperations - October 30, 2008

Oh, about my lay out?, i did my self, when i had some a good idea..i just put on my blog.. and i hope it can be useful for another🙂 , Thanks for your comment and visit my blog..

3. Defi - November 13, 2008

hai
i just wanna ask whether you have some article about the market demand.it’s mean all about the meaning of the market demand. im looking for the article due to my home work.

please send it to my email address

thank you

best regards,
Defi

4. kartikasari08 - November 16, 2008

cool site… salam kenal aorora… aku juga sangat tertarik dengan teori ini.. yang bisa menemukan BOSnya sendiri luar biasa deh menurutku…
Keep writing … see ya!!

5. aororaoperations - November 17, 2008

Salam kenal juga Kartika thanks sudah kunjungi blogku semoga bisa saling tukar informasi, memang yang menemukan teori ini sangat luar biasa, dan teori ini membuat seorang marketer harus selalu mencari ide baru dan berpikir out of the box, its greats.

Aorora

6. Paul - December 27, 2008

only one word can expres the writing above…….

Great !!!!!!!!!!!!!!

thanks for it………..keep learning Vid…..

world waiting for the next fenomenal writing…..

7. Arifin - November 30, 2009

Sangat menarik, tapi bgmn jika kita gunakan strategi BOS utk bisnis migas.?? Ada saran boss aorora?

8. lailatul - December 27, 2009

salam kenal…
saya kesulitan memperoleh teori, penerapan dan cara penyelesaian tentang metrode BOS.
boleh kah saya minta contoh model penyelesaian BOS yang diterapkan di sebuah industri?
thaks before

9. wisnu - January 3, 2010

permasalahan yang akan muncul kemudian adalah..berapa lama perusahaan yang menerapkan BOS akan bisa mempertahankan ceruk pasarnya…mengingat banyak pesaing baru yang muncul sehingga akan kembali menjadi red Ocean …
beberapa penelitian menyebutkan istilah Blue Ocean Strategy baru dimunculkan di tahun 2005, namun ternyata essence dan eksistensi dari Blue Ocean Strategy itu sendiri telah ada dan berhasil diterapkan di Indonesia sejak tahun 1989, katakanlah apa yang dilakukan oleh sampoerna dengan Amild-nya Melihat kenyataan ini, harus diakui bahwa konsep Blue Ocean Strategy pada dasarnya telah melebur dan menjadi bagian dari dunia bisnis, baik di masa silam, masa kini, dan bahkan untuk masa depan.Pada akhirnya Blue Ocean Strategy yang tampil dengan konsep jauh lebih dalam dari hanya sekedar diferensiasi..

10. Renny - June 30, 2010

Hai..

Bisa kasih ide mengenai BOS di perbankan? Misalnya tentang efisiensi biaya, produk, pelayanan ataupun perbankan syariah.

thanks for help.

Salam,
Renny


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: