jump to navigation

Lima Jenjang Kepemimpinan (1)

Bagian 1

Hari ini saya akan berbicara mengenai Lima Jenjang Kepemimpinan. Beberapa tahun yang lalu saya mendengar sebuah pernyataan yang mengubah hidup saya dan hari ini saya akan memberikannya kepada anda. Pernyataan itu sangat singkat, hanya enam kata. Saya ingin anda mencatatnya pagi ini karena setelah mendengarnya, terjadi perubahan yang luar biasa dalam hidup saya sendiri. Keenam kata itu adalah “Naik atau Jatuhnya Sesuatu Tergantung Kepemimpinannya” Sebelum saya mendengar kata-kata ini, sebelum saya mencernanya secara mental dan emosional dalam kehidupan saya, saya tidak pernah benar-benar secara total mengakar pada Prinsip Kepemimpinan. Misalnya, sebagai pastur muda, dulu saya biasa menyelenggarakan seminar. Saya pergi ke daerah-daerah dan ke kecamatan dan berbicara pada beberapa pastur. Saya katakan kepada mereka, “Jika anda benar-benar ingin mengembangkan gereja, berdoalah lebih banyak.” Maksud saya, saya membuat sebagian orang-orang yang serius berdoa dan meminta Tuhan menolong mereka. Namun demikian, saya menyaksikan bahwa nampaknya tidak banyak perubahan dalam gereja mereka. Saya bilang kepada mereka, “Jika anda benar-benar mau mengembangkan gereja, jadilah orang yang benar-benar pecaya (tanpa berpikir). Maksud saya, mereka mencari hal-hal yang lebih serius tentang Tuhan dan Ketuhanan, namun saya menyaksikan bahwa gereja mereka tidak begitu berkembang.Anda tahu hal menarik yang saya temukan? Saya belajar bahwa seseorang yang mencintai Tuhan tidak dengan sendirinya bisa membangun gereja. Begitu juga seorang yang baik hati, tidak dengan sendirinya berarti dia bisa membangun bisnis atau sebuah organisasi. Yang justru saya temukan adalah bahwa jika sebuah organisasi tumbuh, maka dapat dipastikan bahwa pertumbuhan itu terjadi karena pemimpinnya hebat. Dan jika organisasi tidak tumbuh, itu berarti pemimpinnya tidak hebat. Sungguh, naik atau jatuhnya sesuatu benar-benar tergantung kepemimpinan. Dan hari ini, inilah yang ingin saya ceritakan kepada anda semua.

Pertama-tama, mari kita mengajukan sebuah pertanyaan-Kepemimpinan itu apa? Saya pernah mendengar definisi panjangnya. Saya tahu anda pasti juga pernah, tetapi ijinkan saya memberi anda definisi terbaik yang pernah anda dengar, yang seratus persen saya percayai. Sederhana saja: Kepemimpinan itu Pengaruh. Tidak lebih, tidak kurang. Orang yang paling berpengaruh pastilah sang pemimpin. Jika anda melihat ke catatan anda, biar saya bacakan dulu beberapa paragraf yang saya pikir perlu. “Tinggalkan definisi lama karena hanya ada satu definisi, yakni Kepemimpinan adalah Kemampuan untuk mendapatkan pengikut. Hitler adalah seorang pemimpin; begitu juga Jim Jones, Jesus dari Nazareth, Martin Luther King, Winston Churchill, John F. Kennedy-mereka semua adalah pemimpin. Meskipun sistem nilai dan manajemen keyakinan mereka berbeda-beda, masing-masing mempunyai pengikut. Itulah kuncinya. Begitu anda menemukan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan untuk memperoleh pengikut, maka pada saat itu pula anda bekerja mundur kembali ke titik tolak untuk mencari tahu bagaimana memimpin. Hal pertama yang ingin saya lakukan hari ini adalah membantu setiap orang untuk memahami bahwa sesungguhnya kepemimpinan itu tidak lebih dari pengaruh. Jika kita tinggalkan tempat ini dan pergi ke sekolah dasar terdekat, beberapa blok dari sini, lalu kita berhenti dan bersandar ke pagarnya memperhatikan anak-anak bermain pada saat istirahat, apakah anda menyadari bahwa dalam waktu tidak lebih dari lima menit anda bisa mengetahui siapa-siapa yang memimpin di lapangan. Yang perlu kita lakukan cuma menonton anak-anak ini dan tidak akan lama seorang anak akan berkata: ‘Saya akan membagi kelompok.” dan dia akan meminta satu anak untuk berdiri di satu sisi dan seorang anak di sisi lainnya, dan segera kita akan menyadari bahwa dialah pemimpinnya. Dan seorang anak lain, yang juga bagus, menuju ke ayunan, lalu mengatur anak mana boleh duduk dimana. Jadi kita dapat mengungkapkan kepemimpinan dengan cepat kalau kita mau ke lapangan bermain dan menonton anak-anak. Yang membuat saya tercengang adalah semuanya amat jelas, langsung, tanpa pertimbangan apa-apa. Mereka masuk tanpa membawa gelar dan posisi, pembagian kerja, atau tabel-mereka tidak mau membuat hal yang sederhana menjadi rumit dan sangat teknis. Di dalam organisasi saya sekarang ini, seorang pemimpin mungkin bukan orang yang ditunjuk sebagai pemimpin atau pemimpin (karena) posisi. Orang yang menjadi pemimpin adalah yang memiliki paling banyak pengikut. Selalu dan akan selalu demikian. Peribahasa kepemimpinan yang menjadi favorit saya di dalam catatan anda adalah: Mereka yang mengira bahwa dirinya sedang memimpin, tetapi faktanya tak ada yang mengikuti dia, maka sebenarnya dia cuma sedang berjalan-jalan.” Berapa kali anda melihat orang yang ‘sedang berjalan-jalan?’ Maksud saya mereka berangkat sendirian dan berbicara tentang kepemimpinan, memproklamirkan kepemimpinan, dan mengatakan, “Sayalah pemimpinnya,” lalu mereka berbalik untuk mendapatkan bahwa tak seorangpun di belakang mereka. Tak seorangpun ada di belakang mereka. Sekarang kita tahu bahwa mereka bukan pemimpin. Karena seorang pemimpin selalu memiliki orang-orang yang rela menunggu untuk ikut.

Saya belajar ini di tahun 1969 di gereja pertama saya. Saya akan bercerita. Saya lulus dari akademi tanpa pelatihan kepemimpinan sama sekali. Mengapa dewasa ini seminari memiliki pelatihan kepemimpinan, salah satu alasannya adalah karena saya membuat video kepemimpinan ini bagi para pemimpin di seluruh negeri. Sebagian besar dari kami lulus dari seminari tanpa pelatihan kepemimpinan. Karena itulah saya pergi ke gereja saya yang pertama di Hillham, Indiana. Sebelas rumah di pedalaman, tiga bengkel, sebuah toko, dan setengah lusin anjing. Maksud saya, benar-benar Southern Indiana, sangat ‘ndeso, seperti gereja pertama saya.

Saya senang sekali, Margaret juga. Itu gereja pertama kami dan kami ingin bekerja sebaik-baiknya. Lalu untuk pertama kali saya pergi ke pertemuan Dewan  Gereja. Saat itu saya tidak mengerti apa-apa tentang kepemimpinan. Saya tidak tahu bagaimana memimpin rapat dewan gereja. Saya belum tahu bagaimana menghantar para pemimpin melalui sebuah proses, tetapi saya ada disini, saya ada di dalam suatu pertemuan namun tidak tahu apa yang harus dilakukan. Saat itu, saya bingung, “Apa yang harus saya lakukan?” Jadi saya berdoa. Penghotbah juga boleh berdoa, “Tuhan, tolong saya.”-saya memandang orang-orang itu, dan saya saat itu memutuskan melakukan semacam doa syafaat, lalu saya katakan, “Adakah yang ingin mengemukakan sesuatu?” Saya pikir, “Pasti ada yang punya unek-unek atau gagasan dan kami tinggal mengikutinya. Ada seseseorang di gereja itu. Dia petani. Namanya Clod. Dan ketika saya bertanya, Clod langsung berdiri dan berkata, “Bapak Pengkhotbah benar, saya ingin mengatakan sesuatu.” Begitulah, saya akhirnya hanya duduk dan memandang, Clod si Petani benar-benar berpengaruh dan memimpin rapat sampai selesai. Maksud saya, dia mengajukan usul-usul. Di sebelahnya ada seorang laki-laki bernama Benny. Ada hal yang paling mulus yang pernah saya saksikan. Jika Clod mengajukan suatu usulan, Benny mengulanginya dan semua orang di dewan akan bilang, “Iya”. Saya hanya duduk di sana dan mempelajari semua informasi yang mereka katakan. Dan akhirnya rapat selesai, Clod juga selesai dan balik kepada Benny. Katanya, “Bapak Pengkhotbah, saya pikir, kita sudah selesai.” Dan saya bilang, “Ya, saya kira demikian.” Begitulah, saya melakukan tugas saya, berdoa, lalu membubarkan rapat. Saya pulang dan Margaret yang sangat ingin tahu hasilnya.  Rapat pertama dewan dan saya sebagai pendatang baru, Margaret tahu persis saya sedikit gugup. Katanya, “Bagaimana, sayang?” “Oh,” jawab saya. Saya membuat gereja ini kesetrum.” Kata Margaret, “Maksudnya?” Jawab saya, “Hanya dua orang yang kita perlukan-Tuhan dan Clod.” Dan jika saya hanya boleh punya satu, saya akan memilih Clod karena orang inilah yang tahu semua hal yang ada di tempat ini.

Clod seorang petani. Dia sama sekali tidak menyadari kalau dia seorang  pemimpin. Saya bahkan tidak tahu apa Clod bisa mengeja kata “pemimpin”. Saya tidak tahu apakah dia memahami semua ini, tetapi saya tahu satu hal tentang Clod-dialah orang  yang berpengaruh di gereja. Kira-kira tiga minggu kemudian, seminggu sebelum rapan dewan berikutnya, saya menelpon dia dan mengatakan, “Hei, Clod, ini pastur” “Bolehkan saya datang dan bekerja di ladang bersamamu?” Katanya, “Datanglah. Saya senang kalau pastur mau datang.” Saya datang dan kami berdua membersihkan ladang hari itu. Pada saat kami berkeliling melakukan kegiatan bersih-bersih itu, tahu apa yang kami lakukan? Kami bicara tentang gereja. Kami berbicara mengenai gereja dan orang-orang di gereja. Saya mulai bertanya-tanya, mencoba mengetahui jalan pikirannya. Saya mengatakan hal-hal seperti, “Tahukah anda, Clod, pintu depan gereja kita itu sedikit mengganggu saya, catnya mengelupas dan retak. Kelihatannya jelek sekali.” Kata saya, “Setiap kali saya melihat pintu itu saya pikir, kira-kira apa yang dipikirkan orang-orang kalau mereka berdatangan dan melihat pintu itu? Mestinya pintunya tidak begitu. Apa yang harus kita lakukan?

“Saya tahu apa yang harus kita lakukan, “kata Clod. “Saya pikir cat lamanya harus dikerik, lalu dicat ulang.” Saya bilang, “Saya suka gagasan itu.” Saya mengatakan, “Clod, apakah anda keberatan, apa anda setuju kalau kita-kalau kita saja yang menangani soal itu?” “Jangan kuatir,” katanya. “Saya akan membawa soal ini ke dalam rapat dewan Selasa malam nanti.” “Terima kasih, Clod,” kata saya.

Saya bilang, “Clod, ada  tiga ruangan di belakang panggung. Ukurannya kecil untuk Sekolah Minggu, cuma delapan kali sepuluh. Cuma ruang kecil. Ruang sebelah kanan penuh, yang sebelah kiri juga penuh, dan yang di tengah tidak terpakai karena penuh dengan sampah dan saya pikir semua dekorasi Natal tahun lalu masih disitu.” Lalu saya bilang, “Menurutmu apa yang harus kita lakukan?” Katanya, “Dua ruang lainnya penuh, jadi sampah di ruang tengah harus dikeluarkan ruangannya dibersihkan, lalu kelas baru Sekolah Minggu sudah bisa dimulai. Saya berseru, Ah, saya suka gagasan itu.” Lalu saya bilang lagi, Clod, apakah anda keberatan untuk,… “Clod, bisakah anda-setelah pintunya ?” Katanya, “Jangan kuatir, nanti saya yang mengurus.”

Saya bilang, “Clod, pernahkah anda turun  ke ruang bawah tanah?” Katanya, “Maksud pastur?” Saya bilang, “Cobalah tengok, ada air tergenang beberapa inci di sana. Kalau kita mau turun, kita perlu sepatu bot. Kodok-kodok berlompatan kesana kemari, dan banyak binatang melata dimana-mana. Beberapa lembar papan pembatas ruang disana di antara-untuk dua kelas sekolah minggu yang terpisah, namun ruangannya kotor dan pengap. Apa yang harus kita lakukan, Clod.” Jawabnya, “Kita harus membersihkannya.” “Itu sudah pasti,” kata saya. “Apakah anda keberatan…?” Dan jawabnya cuma, “Jangan kuatir. Nanti saya urus.”

Malam Selasa berikutnya, rapat dewan gereja. Saya menengadah dan berdoa, lalu bertanya kepada dewan, “Adakah yang mau mengemukakan sesuatu?” Clod berdiri dan mengatakan, “Uh, Bapak Pengkhotbah, ini agak panjang, jadi rasanya bapak perlu duduk.” Saya duduk, Clod memandang dewan, dan berkata, “Apakah ada anggota dewan yang memperhatikan pintu depan gereja?” Lalau dia menyambung, “Secara pribadi, saya malu melihatnya. Menurut kalian, kira-kira apa pendapat pengunjung ketika mereka berjalan menuju ke gereja dan melihat pintu itu? Catnya sudah retak-retak dan mengelupas. Saran saya, kita bersihkan cat lamanya lalu kita cat ulang. Saran saya, kita kerjakan minggu ini, sebelum hari minggu, jadi pengunjung akan melihat pintu yang yang sudah dicat bagus.” Benny menimpali, ” Betul sekali, Clod. Gagasan hebat.” Orang kedua, dan semua orang berseru, “Ya, ya.”

Clod mengatakan, “Ada lagi. Kalian tahu ketiga ruangan di belakang  panggung gereja kita? Ruang sebelah kanan dan kiri dipakai untuk Sekolah Minggu, yang tengah tidak ada apa-apa kecuali setumpuk sampah bekas acara drama Natal tahun lalu.” Lalu dia menyambung lagi, ” Kita perlu membuka kelas Sekolah Minggu yang baru. Saran saya, kita membersihkan ruang tengah itu.” Dia menoleh ke belakang, ke Maxine Wilson dan saya sama sekali tidak menyangka bahwa dengan datar dia berujar, “Suster Maxine,” katanya, “Usul saya, kita membersihkan ruangan itu dan kita mulai Sekolah Minggu dan sekarang saya mengusulkan agar suster menjadi gurunya.” Lalu dia bilang lagi, “Saya tahu kerja suster bagus. Saya dengar suster menjadi guru pengganti dan suster bekerja dengan baik sekali, khususnya ketika suster membimbing salah satu kelompok paduan suara kita.” Katanya lagi, “Suster cocok sekali mengajar di Sekolah Minggu. Saya ingin suster mengajar. Saya dan isteri saya akan ikut dan kami berdua adalah orang-orang pertama di kelas untuk mendukung suster.” Dari belakang, Maxine Wilson, dengan airmata mengalir di pipinya, berkata, “Saudara Clod, jika anda pikir saya bisa, maka saya akan melakukan yang terbaik.” Clod menjawab, Saya pikir suster bisa.” Benny menimpali, “Saya juga berpikir begitu.” Dan segera sesudah orang kedua ini menimpali, seluruh hadirin mengiyakan.

Kemudian Clod mengatakan, “Adakah diantara kalian yang pernah ke ruang bawah tanah? Kalian perlu sepatu bot kalau turun ke sana. Banyak binatang melata dimana-mana dan kodok berlompatan kesana kemari. Menjijikkan.” Katanya lagi, Kita perlu bersih-bersih. Kita perlu bersih-bersih sebelum hari Minggu. Saran saya, kita melakukan kerja bakti pada hari Sabtu jam delapan pagi.” Lalu dia memandang Leonard dan bilang, “Leon, kamu punya truk?” “Ya.” “Bawa!” Dia menengok ke belakang, Adlain Harrison. “Ad, bawa trukmu, saya bawa truk saya, semua anggota dewan juga. Kita mulai jam delapan sehingga sebelum tengah hari semua sudah bersih. Yang setuju, tolong bilang, ‘ya.’ Dan semua berseru ‘iya’. 

Clod memandang saya dan berkata, Bapak Pengkhotbah, silakan tutup doanya.” Saya bilang, “Saya kira saya mau…Terima kasih, Yesus. Amin.”

Selama tiga tahun dan tiga bulan, gereja itu tumbuh dari tiga menjadi 300 orang di komunitas tani pedalaman yang sangat kampung. Dan selama tiga tahun tiga bulan, saya tidak pernah membawa satu persoalanpun secara resmi ke rapat dewan gereja. Saya hanya perlu ke ladang seminggu sebelum rapat dewan untuk membantu Clod bersih-bersih dan berbicara tentang gereja. Jadi anda bisa melihat bahwa sebagai seorang anak ingusan yang baru di konggregasi pertama, saya  mulai belajar sesuatu tentang  kepemimpinan yang bisa menghindarkan saya dari masalah selama hidup. Prinsip yang sangat sederhana, dan jika saya bisa mengajarkan hal itu kepada anda disini, jika saya bisa mengajarkannya kepada teman-teman anda lewat video, saya yakin anda bisa menciptakan perbedaan, karena tidak saja ‘Naik atau Jatuhnya Sesuatu Tergantung Kepemimpinannya, melainkan juga karena ‘Kepemimpinan adalah Pengaruh.’ Orang dengan pengaruh yang paling besar di dalam sebuah organisasi adalah pemimpin sejati organisasi tersebut. Jika anda berkenan saya ingin mengillustrasikan hal tersebut. Saya ingin membimbing anda, berbicara dengan anda, dan anda mencatatnya. Saya ingin berbicara tentang Lima Jenjang Kepemimpinan.

Di dalam organisasi apa saja,  ada Lima Jenjang Kepemimpinan. Tidak peduli apa organisasi anda, saya yakin anda anda menemukan ke lima jenjang ini. Saya akan membimbing anda sebentar untuk mengenalnya. Saya ingin bicara sedikit tentang hal tersebut, menerangkannya, serta membantu anda untuk memahami ke lima jenjang pengaruh ini. Kita akan mulai dari sini,  pada jenjang yang paling bawah, yakni jenjang terendah; dan saya ingin anda menulis disini, di atas sini. Jenjang kepemimpinan terendah adalah yang saya sebut ‘Kepemimpinan Posisi’, kepemimpinan karena posisi.

Kalau saya berbicara tentang Kepemimpinan Posisi, maka yang saya maksudkan adalah fakta bahwa anda diberi gelar, anda diberi nama, anda diberi kantor, anda diberi posisi di dalam organisasi. Kata kuncinya, persis di bawah ‘Posisi’, saya ingin anda menulis kata kunci yang benar-benar akan membantu anda untuk mengerti kepemimpinan ini apa. Tulis kata ‘hak’-H-A-K.  Orang-orang yang yang berada pada jenjang ini senantiasa menyatakan hak-haknya. Mereka ingin memastikan bahwa semua orang tahu apa posisi mereka, apa gelar mereka. Pada dasarnya mereka ingin memastikan bahwa hak-hak mereka tidak diremehkan. Orang-orang mengikuti pemimpin pada jenjang ini karena mereka harus. Mereka ikut karena bukan karena mereka mau; mereka ikut bukan karena mereka termotivasi; mereka ikut karena terpaksa. Itu sebuah pekerjaan, dan karenanya, persis itulah yang harus mereka kerjakan. Sedihnya, jenjang inilah yang diajarkan kepada kita selama ini sebagai kepemimpinan. Sebagian besar dari kita mendapatkan suatu pekerjaan atau posisi dan kita berpendapat inilah yang disebut kepemimpinan-karena saya punya posisi. Seringkali saya mendengar pastur-pastur yang konggregasinya tidak mau mengikuti pasturnya; mereka tidak memiliki pengaruh besar. Saya mendengar pastur yang berbicara di depan orang-orangnya dan mengatakan, “Ikut saya. Saya pemimpinnya.

Boleh saya mengatakan sesuatu? Kalau anda sampai harus mendeklarasikan diri kepada orang bahwa anda adalah sang pemimpin, maka sebenarnya anda bukan seorang pemimpin. Para pemimpin  tidak pernah harus memploklamirkan diri. Mereka tidak akan mengatakan, “Saya pemimpin, jadi ikut saya!”.”Tidak”   Orang akan mengikuti pemimpin yang mereka inginkan. Pada jenjang nomor satu ini, apa yang harus kita lakukan,  kita harus memahami-ada di catatan anda-pengaruh anda tidak akan membentang melewati wewenang kerja anda. Dan makin lama anda tinggal disana, makin lama anda tinggal disitu, makin tinggi turnover (jumlah karyawan yang keluar masuk) dalam organisasi itu, dan makin rendah semangatnya. Itu fakta. Organisasi-organisasi yang hanya memiliki kepemimpinan karena posisi adalah organisasi yang semangatnya rendah dan turnovernya yang tinggi. Orang mau mengikuti anda tidak semata-mata karena gelar, pekerjaan, atau posisi anda. 

Mari kita ke Jenjang Nomor Dua. Jenjang kedua, yang tentu saja lebih tinggi daripada yang pertama, saya sebut Jenjang Izin. Pada jenjang ini kepemimpinan mulai menyenangkan. Kata kunci disini adalah ‘hubungan’ Pada jenjang ini, orang mengikuti karena mereka mau. Ada perbedaan yang besar; pada jenjang pertama orang ikut anda karena mereka harus, dan jenjang kedua orang mengikuti anda karena mereka mau. Perhatikan sedikit gambaran pada jenjang ini-orang akan mengikuti anda sampai diluar batas kewenangan anda. Pada jenjang pertama, tidak. Mereka mengikuti anda hanya sampai sebatas kewenangan anda  Pada jenjang kedua, mereka mulai merangkak melalui batas-batas itu. Kerja boleh sedikit santai.  Meskipun begitu, ada satu hal yang perlu diwaspadai. Tinggal terlalu lama pada jenjang ini tanpa segera bergeser ke jenjang ketiga akan membuat mereka yang bermotivasi tinggi menjadi tidak sabaran.

Saya menamakan jenjang kedua ini Jenjang Mil Kedua. Saya menyebutnya Jenjang Pipi Satunya. Yesus telah mengajarkan bahwa (perjalanan) satu mil pertama merupakan kewajiban bagi orang-orang itu, tetapi (perjalanan) mil yang kedua dilakukan atas dasar sukarela. Pada mil kedua ini mereka mengatakan, “OK, saya suka anda, karena itu saya akan mengikuti anda sedikit lebih jauh daripada yang seharusnya.” Orang tidak akan mengikuti anda sampai mereka menyukai anda. Kepemimpinan dan Hubungan (yang baik)-keduanya harus seiring; keduanya satu dan sama. Tanpa hubungan yang hebat, anda tidak mungkin menjadi pemimpin yang hebat. Tidak pernah ada cerita tentang pemimpin hebat yang tidak disukai orang. Saya telah mempelajari bahwa sejak dulu kala, jika orang tidak menyukai anda, mereka akan meraung, mereka akan menyabotase anda, mereka akan menunggu-nunggu kesempatan (sampai anda membuat kesalahan kecil sekalipun) untuk kemudian mendongkel anda. Itu pasti terjadi. Itu faktanya. Pada jenjang kedua, keadaan mulai menyenangkan karena anda menyukai mereka dan mereka menyukai anda. Dalam dunia kerja ini biasa disebut Jenjang Bulan Madu. Anda semua benar-benar menikmati keberadaan di jenjang ini, saling memandang penuh rasa cinta. Jenjang ini amat menyenangkan, namun ada bahayanya. Sebelum saya beranjak ke jenjang nomor tiga, saya ingin mengingatkan anda bahwa tinggal terlalu lama pada jenjang ini akan membuat orang-orang tidak sabaran terhadap anda. Makin tinggi kaliber orang-orang anda, orang-orang yang mengikuti anda, makin banyak yang ingin mereka capai dan makin banyak hal-hal berharga yang ingin mereka lakukan. Bersama-sama dengan orang-orang yang bermotivasi tinggi-setelah beberapa saat, mereka akan berkata, “Nanti dulu. Di organisasi ini, harus ada hal yang lebih dari sekedar kumpul-kumpul. Apa yang akan kita lakukan?” Berulang-ulang saya jelaskan hal ini kepada para pastur. Anda boleh mengundang rapat dan anda bisa sukses dalam rapat itu jika rapat itu menghasilkan sesuatu. Tetapi jika anda mengadakan rapat karena anda senang kumpul saja, “Hei, apa kabar, Steve?” “Saya baik-baik saja.” dan kemudian ngomong-ngomong saling tempel pipi sebentar dan setelah beberapa saat, setiap orang akan mengatakan, “Ini menyenangkan, tetapi kalau tidak ada yang kita kerjakan disini, maaf, saya banyak pekerjaan. Ini yang saya ketahui. Orang-orang dengan tingkat kesuksesan yang tinggi, khususnya di dalam gereja atau organisasi sukarela, sangat sibuk. Pekerjaan mereka banyak dan mereka tidak memiliki banyak pilihan waktu. Karena itu, kalau orang-orang seperti ini datang ke sebuah organisasi, mereka ingin memastikan bahwa ada sesuatu yang harus dicapai, dan jika hal tersebut tidak tercapai, maka yang terjadi adalah orang-orang terbaik di organisasi anda,  yang berangka 8, 9, dan 10, para pemimpin, para pemenang, anda tahu apa yang akan mereka lakukan setelah beberapa saat? Mereka akan pergi ke tempat lain karena mereka mengatakan bahwa mereka harus melakukan sesuatu-mesti ada sesuatu yang lebih dari sekedar hidup, lebih dari sekedar berkumpul bersama-sama. Mari kita pindah sejenak ke jenjang nomor tiga. 

Jenjang nomor tiga adalah yang sebut Jenjang Produksi. Disini produktivitas di dalam perusahaan mulai berkembang dan kata kuncinya adalah, ‘hasil’. Pada jenjang ini orang ikut karena apa yang anda lakukan untuk perusahaan. Anda memperoleh jenjang  baru dan orang-orang di dalam organisasi anda mulai menaruh respek.karena melihat kesuksesan  di dalam perusahaan dibawah kepemimpinan anda. Berada di jenjang ini merupakan sesuatu yang hebat. Pada jenjang ini kesuksesan akan dirasakan oleh semua orang. Dengan kata lain mereka akan mengatakan, “Wow, ini betul-betul terjadi.” Saya bilang kepada para pastur, anda bisa mengetahui kalau anda berada pada level ini jika mereka bisa menggambarkan anda seperti ini-Kalian tahu? Sebelum John datang ke Skyline, gereja itu tidak maju-maju, datar saja. Setelah dia datang, gereja itu tumbuh. Kita punya lebih banyak orang, lebih banyak uang, tidak ada anggota biasa, semua dibaptis…” Jika mereka berbicara tentang kepemimpinan anda sejalan dengan fakta bahwa sekarang keadaan lebih baik daripada dulu karena anda disana, maka kemungkinan besar anda sudah berada di jenjang ketiga. Mereka menyadari bahwa anda membawa kesuksesan ke dalam organisasi. Tanyalah dan mereka akan bercerita tentang anda dengan mengatakan, “Akan sangat baik jika pastur yang terakhir itu kembali lagi” “Sekarang kita harus membayar apa yang kita nikmati dulu.” Kalau mereka bicara tentang kempemimpinan anda seperti itu, maka itu artinya anda tidak berada di jenjang ketiga. Paham? Moga-moga saja anda berada di jenjang kedua sehingga mereka memberi anda kesempatan beberapa minggu atau anda harus segera meninggalkan kota.  Percayalah, anda tidak berada di jenjang ketiga kecuali jika mereka mengungkapkan fakta bahwa sejak kedatangan anda, kesuksesan menjadi bagian dari organisasi. Mereka menyukai anda, tahu mengapa? Karena anda sudah berada pada jenjang kedua: hubungan baik. Dan untuk mencapai jenjang ketiga anda harus melewati jenjang kedua dulu. Jadi mereka sudah menyukai anda. Mereka menyukai apa yang sedang anda kerjakan. Bagian terbaik dari jenjang nomor tiga ini adalah-masalah diperbaiki dengan usaha yang sangat kecil karena adanya momentum. Jenjang ketiga adalah tempat dimana Momentum Besar muncul. Momentum Besar, sesuatu yang abstrak, adalah momentum di dalam organisasi yang sekali anda miliki, maka anda akan terlihat lebih baik daripada diri anda yang sesungguhnya. Benar, ‘kan? Sekali anda memperoleh momentum, anda akan terlihat lebih baik daripada ketika anda tidak punya momentum. Anda tidak seburuk yang dipikirkan orang. Misalnya, di Skyline saya mengalaminya-saat itu masih pagi-pagi sekali, dan saya tidak tahu-kira-kira ada 3700-3900, Hari Minggu, hari besar, ulangtahun pertama ribuan orang menghadiri misa yang baru kami adakan, padahal baru setahun. Ini suatu momentum. Ketika misa selesai dan saya berjalan keluar, momentum itu sudah ada disana. Saya bisa melihat orang-orang itu dan saya bisa bersenandung “Hickory, dickory, dock. Tiga tikus memanjat…” (senandung jenaka anak-anak) dan mereka akan mengatakan, “Dia luar biasa, bukan? Salah satu komunikator yang terbaik yang pernah saya dengar-orang ini luar biasa. Sekarang kita akan… sampai dimana dia tadi?  Hickory… saya mau catat.”

Anda lebih besar daripada hidup. Mengapa? Sebab anda memiliki momentum. Kalau anda tidak memiliki momentum, anda boleh saja berjalan ke mimbar dan mengatakan, “Tuhan Mahabesar.” Mereka akan bilang, “Lalu kenapa?” Anda lihat bahwa momentum adalah sahabat terbaik yang pernah dimiliki oleh seorang pemimpin.   Saya selalu mengatakan bahwa momentum setara dengan tiga lagi anggota staf. Momentum sangat bernilai karena sekali anda memilikinya, anda akan bisa berjalan terus dan tumbuh terus. Pada jenjang ketiga masalah bisa diselesaikan dengan lebih efisien. Seringkali orang datang kepada saya, dan mengisyaratkan bahwa mereka tergelincir karena masalah. Anda tidak tergelincir karena masalah, bukan masalah yang ada di organisasi yang merupakan masalah sesungguhnya. Tidak ada masalah itu baru masalah. Masalah sebenarnya adalah bahwa anda tidak memiliki momentum untuk menangani masalah. Yang menjadi masalah bukan masalah itu sendiri. Selama anda bisa mengatasinya, itu bukan masalah. Masalah baru benar-benar menjadi masalah kalau anda tidak memiliki momentum untuk mengatasinya. Jadi bukan masalah itu sendiri yang menjadi masalah. Dan Paul ingin saya mengulanginya agar dia bisa mencatatnya. Dia lagi menuliskannya. Dia baru memahami sepertiganya. Saya tidak bisa mengulanginya-namun saya bisa mengatakan apa yang saya ketahui tentang momentum. Kalau anda memiliki momentum, yang terjadi adalah anda bisa melewati masalah tanpa harus jatuh. Anda bisa mengatakan, “Saya pikir ada masalah disini.” Namun, jika anda tidak punya momentum, persoalan sekecil apapun akan menjadi besar. Apa yang dikatakan orang? Katanya, sebuah lokomotif yang meluncur dengan kecepatan 55 mph dapat menerobos tembok beton setebal lima kaki, yang diperkuat dengan baja. Maksud saya, lokomotif itu bisa melewati tembok itu. Di bawah roda depan lokomotif yang sama, ketika berhenti, tidak bergerak sama sekali, anda bisa meletakkan sepotong batako setebal satu inci, dan lokomotif itu tidak bergerak. Lokomotif yang sama, pada suatu situasi, sepotong batako satu inci menghentikan lajunya. Pada situasi lainnya, tembok setebal 5 kaki yang diperkuat dengan baja, tak dapat menahan lajunya. Apa perbedaannya? Sederhana sekali. Bukan ukuran masalahnya, melainkan ada atau tidaknya momentum bagi anda. Anda ingin berada pada jenjang ketiga karena sekali anda berada disini, semuanya akan menjadi jauh lebih mudah.

Jenjang Nomor Empat-Jenjang nomor empat adalah jenjang yang kita sebut Jenjang Pengembangan. Jenjang yang sungguh besar untuk dijejak. Mendorong pemimpin untuk naik ke jenjang keempat selalu merupakan sasaran saya. Jika anda bisa naik ke jenjang keempat, anda telah berhasil. Kata kuncinya adalah “reproduksi”. Pada jenjang keempat, orang mengikuti anda karena apa yang telah anda perbuat-perhatikan ini-untuk mereka.  Anda menjadi tumpuan orang-orang ini dan anda mulai mengembangkan mereka, membimbing mereka, menjadikan mereka pengikut, dan menjadikan mereka lebih efektif. Kesetiaan besar terbentuk pada jenjang ini. Perhatikan-pada jenjang ini, pertumbuhan jangka-panjang akan terjadi. Disinilah tempat dimana anda mengembangkan pemimpin-pemimpin lain di sekitar anda yang akan membantu anda menjalankan orgaisasi. Pada jenjang nomor tiga, anda melakukan semuanya sendirian. Anda bagus, anda cepat, anda bangkit awal dan semua berjalan baik. Pada jenjang nomor empat, anda mengembangkan orang dan mereka membantu anda memikul beban. Komitmen anda untuk mengembangkan pemimpin akan memastikan terjadinya pertumbuhan jangka-panjang organisasi dan orang-orang di dalamnya, dan anda akan berusaha habis-habisan melakukan apa yang bisa anda lakukan untuk mencapai jenjang ini dan dan tetap tinggal disana. Satu kata yang saya pikir bisa menggambarkan jenjang nomor empat ini lebih baik daripada kata-kata lainnya adalah “kesetiaan”. Itulah sebabnya mengapa-ketika anda mulai menuangkan hidup kedalam hidup mereka, anda mulai mengubah hidup mereka. Sejujurnya, mereka menjadi milik anda selamanya. Itu suatu kenyataan yang  pasti! 

Saya ingat suatu Minggu pagi di Skyline, saya bisa menyebut orang-orang yang menerima Kristus, ada Pastur Butcher, ada Derek Johnson, dan ada Jimmy. Tahukah anda? Siapapun yang menerima Kristus, siapapun yang mulai menuang kedalam hidup mereka, saya yakin mereka akan menjadi miliknya selamanya. Anda hanya perlu berbicara dengan mereka sampai mereka mengatakan:” Itu terjadi di tahun 1974.” Sebutkan tahunnya dan saya katakan orang yang memasuki kehidupan saya. Itu karena anda mulai mengubah mereka. Anda mengubah organisasi yang membuat orang menaruh respek kepada anda, anda mengubah mereka dan membuat mereka mencintai dan setia kepada anda. Dibandingkan dengan jenjang nomor tiga, ada yang berbeda pada jenjang nomor empat: pada jenjang ini, mereka membantu anda memikul beban. Jenjang yang hebat untuk menjejakkan kaki di atasnya. 

Sekarang kita akan bicara tentang jenjang ke lima; sedikit lebih dalam. Ketika kita sampai pada jenjang nomor lima-tidak, saya tidak akan bicara lama di jenjang ini karena masih banyak yang harus kita bicarakan. OK, huh? Dan meski kita tidak perlu berbicara tentang hal ini panjang-panjang, jenjang ini adalah impian kita untuk berada disana pada suatu hari. Jenjang ini saya sebut “Jenjang Kharisma”. Kata kunci pada jenjang kelima ini adalah  “penghargaan”. Orang mengikuti anda karena siapa diri anda., apa yang anda tampilkan, dan apa yang telah anda kerjakan. Langkah ini diperuntukkan bagi pemimpin-pemimpin yang telah menghabiskan waktu bertahun -tahun untuk mengembangkan orang di dalam organisasi. Hanya sedikit yang bisa, tetapi yang bisa melakukannya adalah mereka yang lebih besar daripada hidup itu sendiri. Sebagai pastur-saya masuk ke gereja ini sebagai orang kedua, mungkin selama sebelas setengah tahun, Pastur Butcher telah melayani selama 27 tahun. Salah satu sasaran saya, adalah menempatkan Pastur Butcher pada jenjang nomor lima, karena penting bagi orang-orang untuk mengerti apa yang diwariskan dan menghargai apa yang telah dilakukan orang untuk mereka. Dan karena itu saya selalu mencoba tinggal di jenjang tiga atau empat selama 25 tahun berikutnya. Saya mau menahannya disana karena beliau pantas. Beliau telah melakukannya begitu lama, dengan begitu baiknya dengan cara yang sangat bagus sehingga beliau pantas berada di jenjang itu. Beliau pantas menerima respek saya, penghargaan tinggi saya, beliau pantas menerima penghargaan semua orang di gereja yang saya hormati, dan meskipun ada orang lain, tiga atau lebih, yang bekerja di bawah beliau dan mereka telah berada disana sejak kedatangan saya, saya masih tetap menunjuk beliau. Jenjang Nomor Lima memang luarbiasa. Kalau anda berada di jenjang ini, anda lebih besar dari hidup. Anda masuk ke dalam ruangan dan orang-orang akan memandang anda penuh respek dan merasa senang dengan segala sesuatu tentang diri anda karena ‘siapa diri anda, apa yang anda kerjakan, dan citra apa yang anda tampilkan 

Bagian 2 

Ketika anda melihat Lima Jenjang ini, jika anda membuka halaman dua catatan anda, saya ingin memastikan bahwa anda mengerti, ijinkan saya membimbing anda melewati lima jenjang ini, untuk memastikan bahwa anda mengerti observasi untuk setiap jenjang. Misalnya, Jenjang nomor satu, Hanya-Posisi. Ini jenjang gerbang bagi kepemimpinan kita semua. OK? Jenjang ini berdasarkan gelar, bukan bakat, sangat terbatas, tanpa jaring pengaman.

Akan saya terangkan apa yang dimaksud dengan jaring pengaman. Jika anda jatuh pada jenjang ini, jika anda kacau, anda tidak mungkin naik ke jenjang ini. Jika anda berada disini, dan kerja anda tidak bagus, masih mungkin anda kembali ke jenjang ini. Benar’kan?  Jadi, kalau anda di atas sini, dan jatuh dalam kepemimpinan anda, tidak mengapa karena anda memiliki jaring pengaman. Anda memiliki fondasi ini untuk menahan anda. Namun, jika anda berada pada jenjang nomor satu, dan cuma itu yang anda miliki, jika anda jatuh, anda dalam masalah. Anda tahu apa yang berada di bawah Jenjang pertama? Wilayah Uh-oh. Jika anda jatuh dari jenjang nomor satu, hal yang anda lakukan adalah berteriak uh-oh. Maksud saya, selesai sudah! OK. Anda harus pergi meninggalkan kota, mungkin anda melakukan pekerjaan buruk, saya tidak tahu. Yang saya tahu-tidak ada jaring pengaman pada jenjang nomor satu. Pada jenjang lain, ada, dan anda bisa bergantung disitu dan memperbaiki diri. Jika anda berada pada jenjang pertama, tidak banyak bantuan yang diulurkan.

Juga, perhatikan bahwa ada lima observasi. Di jenjang pertama-sedikit yang diselesaikan. Jenjang dengan sedikit informasi. Ada lima hal disitu. Jenjang yang menyenangkan: setiap orang suka pada anda dan anda menyukai mereka. Jenjang dengan usaha ekstra. Ingat Jenjang Mil Kedua yang telah saya ajarkan? Nomor tiga, ketidakmampuan untuk sukses di jenjang ini membuat kepemimpinan anda menjadi berumur pendek karena anda tidak bisa berlama-lama di jenjang nomor satu. Anda harus, dalam waktu sangat singkat, mendapat tempat di hati orang. Mereka harus mencintai anda, kalau tidak anda harus angkat kaki dari situ. Observasi nomor empat, ketidakmampuan untuk naik ke jenang berikutnya akan mengorbankan sukses jangka pendek anda. Jenjang nomor satu adalah gerbang ke pemimpinan, tetapi jejang nomor dua adalah fondasi kepemimpinan. Memang anda bisa masuk ke gerbang, namun anda harus sungguh-sungguh membangun kepemimpinan anda di jenjang nomor dua-atas dasar hubungan baik. Observasi tentang jenjang nomor tiga-ini Jenjang Momentum Besar. Sudah kita bicarakan. Momentum berarti pertumbuhan tinggi, semangat tinggi, turnover rendah, ada titik temu, sasaran terealisasi, masalah diselesaikan dengan usaha minimum

Jenjang nomor empat. Organisasi berkembang dari satu ke beberapa pemimpin karena anda mengembangkan orang. Kesuksesan organisasi tergantung pada yang lain, keberuntungan mereka, orang-orang yang telah anda kembangkan, dan menaruh mereka di sekeliling anda. Pelajaran Kepemimpinan yang terpenting yang pernah saya pelajari dalam hidup saya adalah mereka yang paling dekat dengan anda ikut menentukan tingkat kesuksesan anda, dan itulah yang akan terjadi pada jenjang ke empat. Orang yang anda bawa ke sekitar anda pada jenjang ini akan sangat menentukan seberapa baiknya kinerja anda. Mereka akan menentukan tingkat kesuksesan anda karena pada saat anda berada di jenjang empat, organisasi anda lebih besar daripada satu orang. Organisasi anda lebih besar daripada anda, jadi anda harus menaruh orang-orang yang bagus di sekitar anda, atau anda harus membuat perbedaan besar di dalamnya, OK? Dan juga kita melihat  pertumbuhan panjang nomor tiga, dan ekspansi sudah dimungkinkan karena organisasi sudah melampaui pemimpinnya, dan kesetiaan bertambah lewat proses pembimbingan.

Pada Jenjang nomor Lima, seperti apapun seorang pemimpin, hanya sedikit yang sampai kemari.  Berhasil mencapainya dapat dikatakan lebih penting dari hidup, dan jika anda bisa sampai kesana, anda pasti bisa menikmatinya. Mari kita bicara tentang hal ini sejenak. Saya akan beri anda-saya tidak tahu-empat atau lima observasi penting mengenai jenjang ini. Misalnya, ini yang sederhana. Makin tinggi jenjangnya, makin lama waktu yang diperlukan. Masuk akal bukan? Dengan kata lain, anda tidak bisa begitu saja naik ke jenjang nomor empat. Anda harus mengembangkan hubungan baik, anda harus menciptakan kesuksesan di organisasi, anda harus bisa memilih beberapa pemenang, dan mulai membimbing mereka, menjadikan mereka pengikut anda. Anda tidak bisa begitu saja naik ke jenjang nomor empat. Masalahnya, khususnya di dalam gereja, rata-rata pastur meninggalkan gereja dan pindah ke gereja lain setiap kira-kira 2½ tahun. Oleh karena itu jenjang keempat tidak dapat dicapai. Jika anda meninggalkan gereja setiap 2 ½ tahun, anda bahkan tidak bisa mencapai jenjang ke tiga. Saya yakin. Anda bahkan tidak bisa memperoleh banyak kesuksesan di dalam organisasi. Anda hanya bisa bertemu dengan beberapa teman. Karenanya, apa yang terjadi adalah ketika anda memimpin di jenjang kedua, anda tidak akan pernah bisa seefektif kalau anda berada di jenjang nomor empat, jadi anda tidak pernah bisa menyentuh bakat kepemimpinan anda, kemampuan, atau potensi anda karena anda tidak pernah tinggal cukup lama. Beberapa pastur menemui saya dan berkata, “Tuhan menyuruh saya ke gereja lain” Omong kosong-menyedihkan bukan? Tuhan tidak memanggil saya. Mungkin Dia bermasalah. Mengira memimpin itu mudah. Maksud saya, apakah Tuhan bodoh? Sehingga setiap beberapa tahun-maksud saya, apakah Tuhan ada di atas sana, di dalam surga sedang melihat ke bawah ke arah kita dan mengatakan, “Oh, John, anakku. Maksud saya bukan gereja A. Maaf-kok saya keliru? Maksud saya gereja disana-pergilah kesana-Oh, maaf. Bukan gereja B. Yang sebelah sana, gereja-oh, maaf-gereja D!” Menurut anda Tuhan itu bodoh? Dengar, anda bergerak demikian cepat, Tuhan datang dan menemukan anda. Dia sedang melihat kebawah dan berkata, “Kemana mereka? Kemana dia? Saya tahu dia disini. Singkirkan semua itu! Anda harus tinggal cukup lama untuk naik ke jenjang nomor tiga. Anda harus tinggal untuk membukukan kesuksesan. Anda harus tinggal cukup lama untuk mengembangkan beberapa orang. Pada saat anda meninggalkan organisasi anda menuju-ketika anda pergi-saya selalu tertawa setiap kali saya ingin menceritakannya. Anda tahu apa yang saya katakan? Anda sedikit lamban, Benz, tetapi tahukan anda, akan sedikit lama untuk kembali kesana. Namun saya akan menerimanya setiap kali anda memberikannya kepadaku. Tidak mengapa. 

Kalau saya melihat pemimpin meninggalkan organisasi setelah dua atau tiga tahun dan hanya bisa naik sampai di jenjang ini, hati saya sedih karena saya menyadari bahwa mereka tidak pernah mencapai potensi mereka. Makin tinggi jenjangnya, makin lama waktunya. Saya akan memberi anda satu lagi-Makin tinggi jenjangnya, makin tinggi kommitmentnya-jenjang komitmen mulai menjadi lebih tinggi, dan komitmen mulai boros. Komitmen anda pada organisasi dsn komitmen organisasi pada anda-Sekarang anda mengembangkan kesetiaan. Anda mulai menyemen hubungan. Jadi setiap kali-Lihat kemari sebentar. Pada jenjang pertama, saya bahkan belum membangun hubungan. Apakah komitmen tinggi? Sama sekali tidak. Itulah sebabya jika anda tidak bisa mendaki jenjang-jenjang kepemimpinan ini, itulah sebabnya mudah menghidupkan organisasi. Anda mendengar saya? Lihat, saya pada jenjang nomor satu. Tidak ada komitmen. Saya tidak mengembangkan hubungan, saya tidak membangun orang, pastilah saya tidak membukukan kesuksesan. Mudah datang, gampang pergi.

Tetapi setiap kali saya mendaki jenjang lain-sekarang saya memiliki hubungan baik, dan mulai sedikit lebih sulit. Saya suka orang-orang itu, dan mereka menyukai saya. Setiap kali saya naik jenjang, makin lama saya disana, saya akan makin efektif dan akan makin sukses, dan dengan sendirinya makin tinggi komitmen saya kepada orang. Observasi yang bagus.

Makin tinggi jenjangnya, makin mudah memimpin. Saya pikir ini hanya-Saya pikir kita semua tahu. Memimpin akan lebih mudah. Setiap kali saya mendaki sebuah jenjang, dengan sendirinya terasa lebih mudah. Observasi nomor empat. Makin tinggi jenjangnya, makin besar pertumbuhannya.  Pertumbuhan makin besar dan itu karunia. Setiap kali saya naik, pertumbuhan lebih cepat,  lebih mudah, lebih besar. Observasi nomor lima adalah makin tinggi jenjangnya-saya suka yang satu ini-makin tinggi waduknya. Saya akan menerangkannya.

Makin tinggi jenjangnya, makin besar waduknya. Mari kita bicara sejenak mengenai hal ini. Kita semua tahu waduk air di San Diego County, dimana hujan hanya sedikit. Kita tahu bagaimana waduk air itu diisi. Sekarang ini sering sekali hujan, mudah-mudahan waduk itu sudah terisi, walaupun kering saat kemarau dan hari-hari selanjutnya. Saya tidak tahu apa orang bisa tercukupi tinggal di daerah yang tanahnya pada retak. Pernahkah anda mendengar peramal cuaca?  Peramal cuaca, kalau memberitakan hujan, mengatakan “Sepanjang musim panas akan buruk, waduk air akan kering dan akan terjadi kebakaran-kebakaran. Hari itu sesudah hujan dua minggu, peramal cuaca itu mengatakan,”Sepanjang musim panas akan buruk.”Saya mendengarkan dan berkata, “Cuma pertumbuhan ini yang kita miliki, kalau musim panas datang, akan lebih banyak kebakaran. Sepertinya akan selalu terjadi kebakaran, bukan? Mari kita bicara tentang waduk. 

Ini yang saya katakan, “Di dalam organisasi yang kita pimpin, kita semua memiliki tempat waduk yang kita sebut “Keramahtamahan” atau “Kesantaian emosi” Yang ingin saya katakan sangat sederhana. Pada jenjang nomor satu, isi waduk tidak banyak. Tidak banyak kepercayaan emosional yang kita miliki. Tidak banyak, tetapi setiap kali kita mendaki sebuah jenjang, makin banyak isi waduk disini. Tahu kenapa? Orang menyukai kita. Kalau orang menyukai anda, mereka akan sedikit lebih toleran dengan anda. Anda bisa melakukan hal bodoh seperti yang anda lakukan pada jenjang pertama, tetapi pada jenjang kedua ini orang akan mengulurkan tangan mereka, karena pada jenjang kedua ini mereka menyukai anda sedangkan pada jenjang pertama tidak. Saya melihat bahwa orang-orang tersingkir pada jenjang pertama bukan karena mereka itu sangat buruk, tetapi hanya karena mereka tidak disukai. Di jenjang nomor dua, mereka melakukan kebodohan yang sama, tetapi orang-orang menyukainya, jadi dia bisa berkata, “Oh, saya tinggal lebih lama.”

Setiap kali anda mendaki sebuah jenjang, akan lebih banyak uang di kantong anda. Lebih banyak air di waduk anda. Begitu anda sampai ke nomor tiga, anda sukses. Anda menjadi lebih besar daripada hidup sebab mereka mengatakan, “Sebentar, sebelum dia datang, tidak seperti ini. Sekarang jauh lebih baik.” Jadi anda memiliki lebih banyak di waduk anda. Setiap kali anda menaiki tangga, Jenjang Kepemimpinan, isi waduk anda makin banyak. Saya akan menerangkannya dengan menggunakan sebuah illustrasi. Saya akan pindah kemari. Misalnya ini dewan gereja saya disini, OK? Dan ketika saya datang ke gereja saya, saya ingin anda memperhatikan ini, karena ini illustrasi kunci untuk seluruh proses waduk ini.  

Ketika saya datang ke gereja ini, mereka memberi saya-karena tidak adanya istilah yang lebih tepat, saya akan katakan, mereka memberi saya ‘uang’. Saya tak bicara soal gaji atau kompensasi finansial. Yang saya katakan adalah bahwa ketika saya datang ke organisasi ini, mereka memberi saya kepercayaan emosional, yang saya sebut ‘uang receh’. Nah, saya datang ke organisasi ini dengan ‘uang receh’ sejumlah x. Maksud saya, mereka ingin saya bekerja dengan baik, saya ingin bekerja baik, karena itu mereka memanggil saya. Semua orang memulai dengan berkata, “Baik, ini akan berhasil. Segalanya akan berhasil karena di kantong saya ada ‘uang receh'(yaitu kepercayaan emosional tadi).”

Sekarang, apakah ‘uang receh’ saya akan berkurang atau bertambah tergantung pada pemimpin macam apa saya ini. katakanlah, sebagai contoh, saya pemimpin yang payah. Saya melakukan hal-hal bodoh. Saya datang ke gereja dan pada bulan pertama, saya langsung memecat seorang pastur muda karena saya tak suka padanya. Menurut saya, tampangnya nggak oke. Nah, masalahnya, pastur muda itu ternyata saudara Brian. Tahu maksud saya? Brian anggota dewan gereja. Saya berjalan masuk, berdiri di depan dewan, dan berkata, “Saya pecat pastur muda itu, soalnya dia berantakan sekali.” Brian berkata, “Dia saudara yang paling saya sayangi. Tahu maksud saya? Dia satu-satunya yang baik dibanding anggota keluarga saya yang lain.” Nah, apa yang terjadi? Apa yang baru saja saya lakukan? Saya kehilangan sebagian ‘uang receh’ saya, tidakkah begitu? Itu tidak berarti saya harus merogoh kantiong saya dan meletakkan uang logam di depan para anggota dewan, tetapi berarti saya baru saja ‘membayar’ kesalahan itu dengan kehilangan sebagian kepercayaan emosional yang mereka berikan kepada saya.

Bulan depannya, saya menghadap mereka lagi. Kali ini kasusnya, saya bolos misa minggu malam. Saya malas pergi karena saya mau nonton acara 60 minutes. Jadi, saya bolos. Karena saya bolos, dewan berkata, “Hei, anda tidak muncul waktu misa semalam-kenapa?” saya bilang, “Wah, maaf. Saya sedang-” Nah, apa yang terjadi? Saya kehilangan ‘uang receh’ lagi. Ya, tak apa-apa. Saya masih punya ‘uang’ di kantong saya. 

Bulan berikutnya, katakanlah saya melakukan hal bodoh lain. Apa yang saya lakukan? Saya tak datang pada misa hari Minggu pagi. Parahnya lagi, sepanjang hari saya bicara pada Margaret, “Sepertinya ada yang harus saya lakukan.” Margaret menjawab, “Entahlah. Memangnya apa?” Saya juga tidak tahu. Kami pergi bersenang-senang dan malamnya saya hanya bilang, “Wah, saya lupa ke gereja!” Kemudian saya ke dewan gereja, dan anda tahu apa yang dilakukan dewan? Mereka bilang, “Anda tak muncul di gereja pada Minggu pagi.” Saya jawab, “Aduh, maaf sekali. Saya sudah merasa saya kelewatan sesuatu. Saya akan berusaha untuk tak melakukannya lagi.” Tahu apa yang baru saja terjadi? Saya kehilangan ‘uang’ lagi.  

Nah, selama di kantong saya ada ‘uang receh’, saya tak akan apa-apa. Namun, akan ada saatnya, dan saat ini saya tak pernah tahu-dengar baik-baik, saya tak pernah tahu, tak akan ada bel berbunyi, tak akan ada tanda yang mengatakan-kapan ‘uang receh’ anda ludes. Tidak ada orang yang berdiri dan melambai, mengingatkan anda, “Anda telah kehilangan kepemimpinan anda. Semua habis. Anda bangkrut secara emosional di mata orang-orang anda.” Saya tak pernah tahu. Anda juga tak akan pernah tahu bahwa anda kehabisan ‘uang’ sampai segalanya terlambat. Anda dengar?

Bulan depannya saya datang ke dewan dan sekali lagi saya berbuat bodoh. Dewan berkata, “Maxwell, dasar dungu, kamu melakukan ini?” Tahu apa yang terjadi? Secara otomatis, seperti bulan-bulan sebelumnya dimana saya bergantung tidak pada kepemimpinan saya tetapi pada ‘uang receh’, saya ‘merogoh kantong’ dan… saya kehabisan ‘uang’.

Saya baru saja bangkrut di mata organisasi yang saya pimpin. Saya telah memudahkan orang-orang untuk berkata, “Ayo lakukan perubahan.” Tanpa ikatan emosi, mereka sudah siap untuk menyingkirkan saya. Saya berjalan kiri-kanan dan berkata, “Tunggu dulu, saya tahu saya melakukan hal tolol, tapi saya pernah melakukan hal lain. Maksud saya, kalau anda pernah ke Dallas, anda akan tahu hal tolol yang pernah saya lakukan di sana-itu baru namanya ketololan besar.” Anda tahu, dalam hal ini yang tidak anda mengerti adalah sebuah hal kecil tetapi penting. Yang tidak anda pahami adalah bahwa yang membuat anda tersingkir dari suatu organisasi bukanlah kesalahan terbesar yang pernah anda lakukan, tetapi kesalahan terakhir yang anda lakukan. Pahami ini-saya mendengar setiap waktu orang-orang berkata, “Tapi John, itu nggak parah-parah amat, kok.” Memang tidak kalau anda tidak kehabisan ‘uang’.  

Sekarang, kita coba berpikir positif. Katakanlah saya kembali ke gereja itu dan saya melakukan banyak hal baik, apapun itu. Mungkin sejak saya datang ada beberapa orang baru bergabung dan dewan suka itu. Disini, saya membiarkan Sandy jadi ‘bendahara’. Nah, begitu saya pergi ke rapat dewan, mereka memberi saya ‘uang receh’. Silakan, anda bisa memberi saya sedikit-terima kasih. Lalu, saya berkata, “Wah, tadi pertemuannya menyenangkan sekali. Saya senang. Terima kasih banyak!” bulan berikutnya saya datang lagi dan ternaya saya telah melakukan khotbah dengan baik dan dewan berkata, “John, anda pengkhotbah yang baik,” dan Sandy kembali memberi saya sedikit ‘uang’. Nah, Sandy, anda harus memberikannya kembali pada saya sedikit demi sedikit-maaf, sebentar-anda mengembalikannya pada saya jauh lebih lambat dibanding ketika anda mengambilnya dari saya. Bendahara yang baik, ya? Perhitungan yang baik? Saya ingin berkata, begitulah adanya di dalam kehidupan nyata. Anda kehilangan lebih cepat daripada anda mendapatkan.   

Sebaiknya anda memahami ini, pemasukan dan pengeluaran ‘uang’ ini tak pernah berimbang. Manusia tetap manusia, saya juga, anda juga. Manusia cenderung lebih mengingat hal-hal buruk daripada hal-hal baik. Jadi, tidak akan pernah ada kesamaan. Anda benar, Sandy-satu dolar tiap kali. Tapi karena ia tak mau, saya akan memberikan milik saya sendiri. Saya akan menyimpannya-wah, ada lima dolar-Sandy, anda bukan ‘bendahara’ jujur, ya? Wah, ia menemukan lima dolar. Waktunya pergi.

Anda tahu, setelah beberapa lama, saya terus mengumpulkan ‘uang receh’ dan kantong saya terisi. Saya bilang terima kasih, dan anda tahu? Anda tahu apa yang saya suka? Saya suka pertemuan dewan. Asal anda tahu, saya bisa menentukan keadaan anda hanya dengan melihat bagaimana sikap anda pada dewan. Jika anda senang pada mereka, anda sedang mendapatkan ‘uang receh’. Semua orang suka mendatangi kelompok yang berkata, “Anda hebat.” Jika anda tak menyukai mereka, itu karena anda sedang kehilangan ‘uang receh’. Tak ada orang yang mau mendatangi pertemuan dimana orang-orangnya berkata, “Saya tak suka anda, John.” ‘uang receh’ di dalam kantong anda inilah kuncinya.

Saya beri anda ilustrasi sederhana. Saya dan teman saya saya Rick Warren makan siang bersama beberapa tahun lalu, dan Rick ini sedang mencari tanah. Untung saja, kelihatannya ada yang cocok, dan mereka siap membangun. Saya senang mendengar ini. Rick seorang pemimpin yang hebat di gerejanya, tetapi sayang, selama bertahun-tahun mereka harus melakukan kegiatan gereja dengan menumpang pada bangunan sekolah. Selama 12-13 tahun, mereka mencari tanah, padahal di Orang County ini susah mencari tanah dan menempatkannya dalam suatu wilayah tertentu-kita bisa merasakan semua itu juga di San Diego.  

Nah, mereka sudah menemukan sebuah bukit. Mereka membayar. Celakanya, mereka kehilangan tanah itu-juga uang mereka! Rick berdiri pada hari Minggu pagi-ia cerita pada saya-ia bilang, “Saya berdiri dan saya berkata, “Saya punya berita buruk dan berita buruk.”” Anda tahu apa jadinya kalau ada yang bilang “berita buruk dan berita buruk”. Rick berkata, “Berita buruknya, kita kehilangan tanah yang semestinya kita dapat.” Orang-orang lalu ber-“Aaah.” Rick berkata lagi, “Berita buruk keduanya, kita juga kehilangan uang. Semua uang yang kita sediakan untuk tanah ini, seratus ribu dolar, ludes.” Rick bilang pada saya, “Mereka sampai lemas dan diam selama lima belas detik.” Lima belas detik. Dia berkata, “Kemudian, bahu mereka kembali tegak dan mereka mengangkat tangan dan mereka berkata, “Pastur Rick, Pastur Rick.”” Rick berkata, “Ya?” Mereka menjawab, “Kalau begitu, minggu ini kita cari tanah ke mana?” 

Hanya lima belas detik yang mereka perlukan untuk berhenti menangisi hilangnya seratus ribu dolar. Mengapa? Rick punya banyak ‘uang receh’ di kantongnya. Ia gagal satu kali, tetapi ia telah melakukan begitu banyak hal baik hingga tak ada yang mempermasalahkannya. Dengarkan-seratus ribu dolar dan ia masih bisa jalan. Mereka kembali bilang, “Ayo cari tanah,” hanya dalam lima belas detik. Saya tahu beberapa pastur yang hanya karena kehilangan beberapa ratus dolar tidak bisa membawa umatnya keluar dari depresi. Mereka bakal memotong urat nadi mereka, tahu maksud saya? Mungkin itu masih bisa disyukuri daripada si pastur ditembak di kolam renang, entahlah. Yang saya tahu, bukan seberapa besar masalahnya, tetapi seberapa banyak ‘uang receh’ yang ada di kantong anda. Semakin tinggi jenjang kepemimpinan anda, semakin banyak kembalian yang ada di kantong anda, dan semakin besar waduk yang anda miliki. Kita perlu melihat untuk memahami, dan sebentar lagi, kita akan melihat dan memahami berbagai hal. kita akan mendapat ‘recehan’. OK.

 

                                                                               John C Maxwell

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: