jump to navigation

Penglihatan

Masa muda berjalan di depanku dan ku ikuti langkah hingga kami tiba di padang yang jauh. Disitu dia berhenti dan tegak berdiri, memandang awan gemawan, yang ditiup angin, pepohonan yang cabang telanjangnya menuding kawasan surgawi seolah mereka ingin memohon surga mengembalikan dedaunan hijau. Dan berkata, “kita berada dimana wahai masa muda?”,

Dia menjawab, “kita berada di padang kebingungan. Hati-hatilah!”. “mari kita pulang karena ketandusan tempat ini membuatku takut dan pemandangan awan gemawan dan pepohonan telanjang membuat jiwaku lara.

Dan dia berkata, Tunggu sebentar, karena kebingungan adalah awal pengetahuan.”Lalu aku memandang dan menyaksikan seorang bidadari bergerak menghampiri kami bagai visi dan dalam keherananku aku memekik,”Siapakah kamu?”,inilah Melpomene,anak perempuan Yupiter,Dewi Tragedi , dia menjawab.”Dan, tragedi apa yang diinginkan dariku sementara kau masih berdoa disisiku,wahai masa muda yang berbahagia?” ,dan dia menjawabku , “Dia datang demi menunjukkan kepadamu dunia dan duka cita,” karna dia yang tidak melihat duka cita takkan melihat kebahagiaan.”

Lalu, bidadari itu meletakkan tangannya diatas mataku dan ketika ia mengangkat tangan, kebeliaanku pergi dan aku telanjang dari pakaian zat. Dan aku berkata, ” Kemanakah masa muda itu wahai putra dewa dewa?” Dia tak menjawabku, namun merangkulku dengan sayapnya dan membawaku terbang ke puncak gunung yang tinggi. Kusaksikan bumi dan semua yang didalamnya terbentang dihadapanku bagai halaman dan rahasia penghuninya tampak didepan mataku bagai aksara. Kemudian terpesona berdiri sangat dekat dengan bidadari itu yang memandang pada misteri manusia dan berjuang untuk untuk mengenali lambang kehidupan.

Aku melihat, ya aku melihat ,namun aku tak bisa melihat. kusaksikan para bidadari kebahagiaan menghadapi setan celaka diantara manusia mereka, dan didalam kebingungannya kini dia bergerak menuju ke harapan , lalu ke putus asaan . Kusaksikan cinta dan kebencian bermain di hati insan. yang satu menyembunyikan kesalahannya dan membuatnya mabuk anggur penyerahan dan kehilangan lidahnya dalam doa sanjuh dan sembahyang. Yang satu itu membangkitkan nafsu dan membutakannya terhadap kebenaran  dan menutup telinganya di depan pembicaraan yang benar.

Kulihat kota menduduki tanah bagaikan seorang anak perempuan di jalanan berpegang pada kelaliman baju manusia . Dan daerah liar yang indah kulihat berdiri tegak dari jauh dan menangis demi kepentingannya.

Kulihat para pendeta, licik , bagaikan kawanan rubah dan para juru selamat yang keliru berdagang tipu daya dengan umat. Dan orang menjerit memohon kebijaksanaan menolak mereka karena tidak berhati hati ketika ia menyeru mereka dijalan , dihadapan orang banyak. Kulihat para pemimpin agama bersaing satu sama lain dengan mengangkat pandangan mereka kearah surga, sementara hati mereka terkubur di kuburan nafsu berahi. Kulihat muda-mudi menunjukkan cinta pada lidah-lidahnya dan menarik dekat ke harapan kegagahannya, kehebatan renungan yang jauh dan kasih sayang yang yang tidak pernah tidur.

Kusaksikan pula para pembuat hukum memperdagangkan pidato yang memutar balikkan perkataan di pasar dan penipuan yang memalukan, serta para tabib memaksakan olah raga kepada penduduk yang sederhana dengan penuh kepercayaan. Kebodohan duduk bersama kearifanpun telah aku saksikan , menaikkan masa lampunya keatas singgasana mulia dan melindungi masa kininya pada kemudahan diatas selembar permadani dari keleluasaan dan membentangkan ranjang kehormatan untuk masa depannya.

Kusaksikan si miskin yang menyedihkan menabur dan sikaya yang sangat kuat menuai dan memakan, dan penindasan berdiri disana dan rakyat memanggilnya hukum. Para pencuri, perampok, dan kegelapan kusaksikan mencuri benda pikiran dan para penjaga cahaya tenggelam dalam tidur kemalasan. Seorang wanita kulihat bagai kecapi ditangan seseorang yang tak bisa memetiknya dan merasa tak senang dengan bunyinya.

Kulihat bala tentara mereka menanam kota dengan hak istimewa, dan bala tentara itu mundur karena mereka berjumlah sedikit dan tidak bersatu. Dan kebebasan hakiki berjakan sendirian di berbagai jalan , mencari lindungan didepan pintu dan di tolak orang. Lalu kulihat kesempurnaan diri dalam suatu iring-iringan hebat dan khayalak mengelu-elukannya sebagai kebesaran.

Kusaksikan agama terkubur diantara kitap dan dalam manfaat ilusinya. Kusaksikan orang menjemukan, kesabaran bagi selembar jubah untuk kekecutan hati dan memanggil kesabaran yang bernama kemalasan , serta kelemahan  mereka juluki sebagai ketakutan. Aku melihat pengacau di pesta makan membuat tuntutan sementara tamu tinggal diam. Dan kekayaan ditangan seorang pemboros bagai jerat perbuatan jahat dan di tangan orang kikir bagai kebencian para pengikutnya. Di tangan orang bijaksana aku tidak melihat kekayaan apapun.

Ketika kusaksikan semua peristiwa ini aku mengerang pedih,” Lalu, apa arti bumi ini putri dewa-dewi?” inikah manusia yang sesungguhnya?” Dan dia menjawab dengan suara luka yang tenang,” Inilah jalan jiwa , diaspal oleh bebatuan dan onak duri. Inilah bayangan manusia . Inilah malam , tapi niscaya pagi hari akan tiba.”

Kemudian ia meletakkan tangannya pada mataku dan ketika mereka mengangkatnya aku melihat diriku sendiri dan kebeliaanku berjalan dengan lamban . Dan HARAPAN .. berlari didepanku.

 

 Kahlil Gibran        

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: